Skip to main content

Dilema dan perjuangan

Katakanlah profesi bukan zona yang nyaman..
Ini dimana saat saat menguras tenaga dan pikiran hingga melewati batas...

Profesi bikin aku ga ada waktu buat jalan-jalan, nonton film, bahkan bakar sate pun...

Oke, mungkin saya yang terlalu berlebihan,
Karena sebagian teman2 saya masih ada yang sempet, bahkan untuk pacaran sekalipun...

Ini memang baru jalan 2 stase, masih ada sekian stase lagi, masih ada sekian bulan lagi..

Masih panjang proses untuk menjadi ners...

Tapi apapun itu, ga ada pilihan untuk berhenti,
Karena berhenti adalah mati.

Mungkin enak ya kalo tinggal aja di rumah,
Makan dan tidur sepuasnya..

Tapi apa dengan kayak gitu bisa sukses ??

Bismillahhiraahmanirrahim..
Gue niatin lagi semua proses ini karena Allah, karena mama papa, karena masa depan gue

Gue akan lakukan yang terbaik buat mama papa gue..
Buat adek gue,

Berdarah2 sekalian, exhausted sekalian,,l

It doest matter as long as i can curve the smile shape on my parents' face.

Semangat alin
Semangat alfatih

Just do ur best
And Allah will take the rest

Perjalanan menuju semarang
Kereta tawang jaya 2/17e
06.30

Comments

Popular posts from this blog

Pah.....

"Alin, tahun berapa alin lulus ?", tanya lelaki itu. pertanyaan ini bukan pertama atau yang kedua kalinya.. pertanyaan ini udah sering aku dengar... dan jawabanku juga masih tetap sama "insyaAllah pah, april 2015 udah kelar profesi" entahlah.. selalu ada satu rasa yang sangat berat dalam pertanyaan itu.. rasa lelah yang tak pernah terungkapkan.. rasa lelah yang selalu disimpan rasa lelah yang seringkali terabaikan... dan selalu ada satu janji pada kata "april 2015" selalu ada harapan dalam kata "april 2015" seperti angin yang ditunggu oleh orang yang penuh peluh seperti air untuk orang yang tercekik karena haus ataupun seperti tidur siang untuk orang yang kelelahan.. Pah... insyaAllah.... hari pada "april 2015 adalah hari dimana penyerahan "beban" yang selama ini kau pikul di bahumu ke bahuku... hari dimana pergantian posisi tertinggi untuk bertanggung jawab atas nama "keluarga" hari itu, tak ...

pasrah hingga titik terendah

ujian tulis kukerjakan semampuku.. sekuatku.. kuhabiskan 3 lembar folio full selama satu setengah jam bersama kurang lebih 7 peserta lain yang  juga lolos.. dengan tulisanku yang percayalah lebih rapih dan terbaca tulisan anak tk (kajurku pernah berkata demikian) aku menyelesaikan lebih cepat 10 menit dari waktu yang telah ditentukan.. bukan apa-apa, aku ingin mengantri wawancara lebih cepat karena aku ada kuliah.. pewawancara duduk persis dihadapanku.. sial, tidak ada meja yang menjadi pembatas diantara kita ku yakin interviewer itu telah melihat kaki ku yang tidak bisa diam, dia pasti telah menangkap ke-nervous-an ku.. saat sesi wawancara kujawab semampuku dan sejujur-jujurnya jawabanku.. ketika penutupan sang interviewernya bertanya "bagaimana bila Anda tidak lolos dalam tahapan ini karena mungkin ada peserta yang jauh lebih baik dari Anda?" dengan simpel aku jawab "berarti bukan rejeki saya pak" setelah itu aku mendadak lemas *** yaTuhan,...